Matahari telah ada di atas kepala, suara panggilan adzan pun
memanggil. Sholat Jum’at sebuah kewajiban bagi kaum yang mengaku pria. Tapi
entah mengapa Jum’at ini terasa berbeda, mungkin karena akhir tahun akan segera
tiba dengan long weekend yang menyapa. Ah apapun itu aku harus jalan untuk
melaksanakan kewajibanku dulu.
Setelah selesai Sholat Jumat, aku bergegas pulang berkemas
barang yang akan kubawa berpetualang ke kota kembang dengan kereta akan menyapa
nanti menjelang petang. Perjalanan pun dimulai, di dalam kereta kala itu sudah
lumayan penuh saat sampai Solo, dan aku pun agak sedikit senang karena di depan
ku masih ada kursi kosong, ya lumayan kalau tempat itu kosong sampai Bandung
bisa di pakai untuk meluruskan kaki, pikirku. Tapi, saat pemberhentian kereta
di Stasiun Lempuyangan, Kau sang pemilik tiket tempat duduk di depan ku muncul
dengan postur yang tinggi dengan semyum indah menyapa dan sorotan mata yang
begitu mempesona.
Stasiun Kiaracondong, stasiun akhir tujuan kita malam itu
Kau berdiri di samping kursi kosong di depan ku, dengan
barang bawaan yang lumayan banyak dan agak sedikit kewalahan untuk menyimpan
barang-barang nya di bagasi atas kursi.
“Boleh saya bantu simpankan barang bawaannya”
Dengan sedikit terkejut atas tawaranku kau pun tersenyum.
“Ehh iya mas, makasih ya”
Tak kusangka suaranmu begitu merdu dan lembut pula yang
membuatku begitu nyaman saat mendengarkannya. Setelah semua barangmu tersimpan
di bagasi kereta, kau duduk di depanku.
“Mau kemana Mbak?”
Dan lagi-lagi dengan senyum andalanmu.”Mau ke Bandung Mas.”
Ahh, ternyata tujuan kita sama, kau ternyata gadis asli
Bandung yang tengah menuntut ilmu di salah satu Universitas di Jogja. Kau pun mulai bercerita tentang kesibukan mu dan tujuanmu di
Bandung. Sering kali di tengah obrolan aku terhanyut dalam tatapanmu, kau memiliki
mata yang begitu indah dengan sorotan yang lembut, begitu mempesona nya ciptaan
Tuhan yang satu ini. Lalu tiba-tiba kau berteriak, ah, gerak modusku langsung rusak. Ternyata kau tengah asyik pula
dengan obrolan di ponselmu, dan kuharap itu bukan pesan dari kekasihmu.
Untuk memecah kebosanan saat di perjalanan kau menyiapakan
sebuah buku yang tak asing bagiku, itu adalah buku karya Ayah Pidi yang bulan
Januari 2018 nanti akan di tayangkan di layar lebar.
“Baru baca buku Dilan?”
“Ah, tidak juga, lagi pingin baca lagi aja sebelum nonton filmnya nanti”
“Letak kan saja buku mu, aku jamin kau tak akan bosan dalam perjalanan ini saat bersamaku”
Kau pun tertawa dengan perkataan ku yang meniru gaya dalam
buku Dilan, dan obrolan kita semakin menarik dengan sesekali kau ayik juga
dengan ponselmu.
“Pacarnya ya?” Tanyaku sedikit mengagetkannya.
Dengan ekspresi yang sedikit kaget dan mungkin kau juga
bingung kenapa aku mengarah kesitu.
“Bukan kok, saya belum punya pacar, ini Ayah dari tadi tanya kabar.”
Ohh, begitu terkejutnya, gadis secantik dan semempesona ini
belum punya pacar.
“Kamu cantik, tapi masih belum punya pacar, tapi tak tau nanti kalau kereta ini sudah sampai Bandung, tunggu aja.”
“Hahaha, kamu ganti nama aja deh jadi Dilan?”
Dan sekali lagi, tawamu memecah keheningan
malam di kereta malam itu.
Kruk, aku terkejut di balik tawamu ternyata kau tengah lapar
juga kala itu, ya pantas saja tak terasa waktu sudah mulai mulai malam, dan
kereta segera memasuki perbatasan Jawa Barat sekarang. Kau mengeluh malam itu
kenapa tidak ada tukang nasi yang lewat, padahal dari sore tadi banyak yang
mondar mandir jualan. Kau mengeluh berulang kali, dan aku diam mengamati karena
kau cantik sekali.
“Ketawa mulu jadi laper nih, yang jual makanan kenapa ga lewat lagi sih ini. Ehh, kamu mau jadi apa? ayam goreng? pop mie? nasi goreng? atau nasi rames? Karna kamu telah membuatku lapar, aku jadi ingin memakanmu.” Katanya meniru kata-kata dala buku Dilan juga.
“Hahaha, ngebales nih. Bawel juga ya kamu kalau lagi lapar”
Penjual makanan pun lewat, dan kau makan dengan lahapnya
malam itu, begitu natural ngga dibuat-buat sok manis seperti wanita kebanyakan
yang baru kenal.
Kemudian kau mengajak saling follow akun instagram, dan kau
menertawaiku karena feed instagram ku kosong tak pernah ada aktifitas dan
mengolok ku habis-habisan. Gurat
mukamu seketika mengombak imut di saat-saat seperti ini, telapak jemariku
langsung merupa papan selancar untuk beraksi. Kau masih sibuk dengan ponselmu
entah masih sibuk dengan instagram atau mau ngapain juga aku tak peduli, aku
cuma diam mengamati sesosok yang begitu cantik di depan ku ini. Dan lagi
tiba-tiba kau berteriak dan mengagetkan ku.
“Hei ngalamun aja!!! sini sini liat deh tempat ini bagus dijamin hits banget, gimana kalau kita liburan kesini nanti, kan lumayan untuk isi instagram mu, hahah, sekalian nanti foto-fotoin aku juga ya.”
Hah, aku makin
terkejut dan bergumam disertai rasa bingung.
“Hah, yakin nih kamu mau ngajakin liburan kesana?”
“Iya, mau ngga? Pokoknya nanti pas motret ambil posisiku dari di tengah bawah ya, aku keliatan kecil aja gapapa yang penting kelihatan sendu, trus nanti bantu edit juga pake VSCO, tapi sebelum masuk ke VSCO edit dulu pakai Lighroom biar kepisah warnanya!”
“Lah lah lah, buset deh ini foto aja belum udah ngomongin edit aja sih.”
“Hehehe, ya pokoknya intinya gitu, pokoknya nanti awas aku jangan kelihatan gendut di foto ya! arahin yang bener.”
“Iya iya bawel, ini sampe Bandung aja belum udah ngomongin libuaran sama edit foto aja sih, yaudah yuk tidur aja! liat tuh sekitar kita udah pada tidur kalau kita ngobrol terus nanti ganggu yang lainnya lagi.” Seru ku memotong binar riangnya, dia tersenyum lalu bibir bawahnya dipanjangkan, manyun yang menggemaskan.
“Iya, iya! pokoknya ini simpan nomor ku, besok minggu kita liburan kesana, nanti jemput aku sepulang dari gereja ya.”
Tiba-tiba dadaku sesak dan mengucap
harap,
"Tuhan, atas nama rasa yang kau beri, bisakah sementara menjadi selamanya? Aku masih punya janji untuk liburan dengannya nanti"

No comments:
Post a Comment