Di sudut kota Jakarta awal kita berjumpa. Lewat ruang pameran di salah satu kafe, kita menempelkan foto kenangan agar kita bisa kembali lagi kesana.
Jarak berkilo-kilo meter pun tak masalah buat kita, sampai akhirnya jarak yang semakin tak terukur pun kita jalani bersama. Awalnya semua berjalan lancar sampai akhirnya satu per satu masalah pun muncul, menghantam perlahan namun berurutan.
Tol Padalarang, dimana semua hanya tinggal kenangan
Ditemani secangkir coklat hangat dengan suhu tubuh yang meluap luap, aku mulai melukiskan kata-kata. Memanggil hadirmu yang dulu selalu menemani untuk aku ajak berbagi dan kau yang selalu melibatkan aku untuk setiap keresahanmu. Sekali lagi, kau berhasil menyalakan bara dalam ingatan yang memuai bersama lahar kecemasan, menerima keputusanmu yang kini semakin melupakan aku karena luapan kebahagiaan.
Malam semakin pekat, dan aku pun teringat akan goresan yang kubuat. Kau bisa datang kembali ke tempat itu untuk melihatnya langsung, sembari mengenang apa yang tak bisa diulang. Kalau kau tak mau aku pun tak memaksa. Keputusanmu akan selalu aku terima. Lagipula memang tak ada lagi yang bisa di perjuangkan dari hati yang telah di miliki.
Maka sebelum tulisan berganti tangisan, lebih baik aku hentikan. semoga setelah ini cerah mentari senantiasa berpijar menyapu luka terbitkan asa. Karena semesta selalu berpihak kepada yang berhak, termasuk aku dalam mencintaimu dan kau dalam mencintainya.

No comments:
Post a Comment