Merelakan dan Melangkah

Kalau saja waktu itu namaku tidak tercantum dalam daftar hadir pesta perayaan tukar cincinmu, mungkin saat ini aku masih berjuang untuk menyelamatkan hidupmu dari status lajang. Sayangnya, berkali-kali aku mengusap mata dan melipat-lipat undangan, pernikahanmu tetap dilaksanakan. Mau tidak mau aku harus menerima kenyataan bahwa ketulusan bisa kalah oleh kemampuan finansial, rasa cinta bisa takluk oleh kesempatan dan kematangan usia, setidaknya saat itu kenyataan berkata demikian. Ya, mau bagaimana lagi. Aku bukan Ko-Ching Teng dalam film "You Are the Apple In My Eye" yang dengan gagah berani datang ke pernikahan Shen Cia-Yi lalu mencium mempelai pria agar bisa mencium perempuan idaman. Ciuman yang membuat hening seisi ruangan. Ciuman yang menginspirasi untuk berbuat hal yang sama bila suatu hari orang yang dicinta tidak menikah dengan dirinya. 

You Are the Apple In My Eye kiss scene

Jarak Parak

Di sudut kota Jakarta awal kita berjumpa. Lewat ruang pameran di salah satu kafe, kita menempelkan foto kenangan agar kita bisa kembali lagi kesana.
Jarak berkilo-kilo meter pun tak masalah buat kita, sampai akhirnya jarak yang semakin tak terukur pun kita jalani bersama. Awalnya semua berjalan lancar sampai akhirnya satu per satu masalah pun muncul, menghantam perlahan namun berurutan.

Tol Padalarang, dimana semua hanya tinggal kenangan

Kereta Awal Jumpa

Matahari telah ada di atas kepala, suara panggilan adzan pun memanggil. Sholat Jum’at sebuah kewajiban bagi kaum yang mengaku pria. Tapi entah mengapa Jum’at ini terasa berbeda, mungkin karena akhir tahun akan segera tiba dengan long weekend yang menyapa. Ah apapun itu aku harus jalan untuk melaksanakan kewajibanku dulu.

Setelah selesai Sholat Jumat, aku bergegas pulang berkemas barang yang akan kubawa berpetualang ke kota kembang dengan kereta akan menyapa nanti menjelang petang. Perjalanan pun dimulai, di dalam kereta kala itu sudah lumayan penuh saat sampai Solo, dan aku pun agak sedikit senang karena di depan ku masih ada kursi kosong, ya lumayan kalau tempat itu kosong sampai Bandung bisa di pakai untuk meluruskan kaki, pikirku. Tapi, saat pemberhentian kereta di Stasiun Lempuyangan, Kau sang pemilik tiket tempat duduk di depan ku muncul dengan postur yang tinggi dengan semyum indah menyapa dan sorotan mata yang begitu mempesona.

Stasiun Kiaracondong, stasiun akhir tujuan kita malam itu