Merelakan dan Melangkah

Kalau saja waktu itu namaku tidak tercantum dalam daftar hadir pesta perayaan tukar cincinmu, mungkin saat ini aku masih berjuang untuk menyelamatkan hidupmu dari status lajang. Sayangnya, berkali-kali aku mengusap mata dan melipat-lipat undangan, pernikahanmu tetap dilaksanakan. Mau tidak mau aku harus menerima kenyataan bahwa ketulusan bisa kalah oleh kemampuan finansial, rasa cinta bisa takluk oleh kesempatan dan kematangan usia, setidaknya saat itu kenyataan berkata demikian. Ya, mau bagaimana lagi. Aku bukan Ko-Ching Teng dalam film "You Are the Apple In My Eye" yang dengan gagah berani datang ke pernikahan Shen Cia-Yi lalu mencium mempelai pria agar bisa mencium perempuan idaman. Ciuman yang membuat hening seisi ruangan. Ciuman yang menginspirasi untuk berbuat hal yang sama bila suatu hari orang yang dicinta tidak menikah dengan dirinya. 

You Are the Apple In My Eye kiss scene

Kursi pelaminan hari itu hanya mampu kulihat dari rentetan unggahan di Instagram, dengan senyum serta keramaiannya masih jelas kuingat sampai sekarang. Tepat setelahnya hari-hariku berisi sumpah serapah mengutuk diri sendiri atas ketidakberdayaan menaklukan hati. Kata-kata mulai kuajak berdiskusi untuk membentuk alinea, menjelajahi kecewa untuk merubahnya menjadi paragraf penuh lara.

Lalu beberapa hari setelah nya, kau tetap masih menghubungi ku. Kau bercerita tentang masalah rumah tangga mu, tentang lelakimu yang kau banding bandingkan dengan diriku. Apakah kau gila? Apakah kau masih punya rasa? Kau kira hatiku stasiun, tempat pertemuan dan perpisahan yang membekas dengan luka sebagai satu-satunya kereta yang melintas. Kau mengingatku saat kesedihan datang,  lalu kau tinggalkanku saat senyummu kembali terang. Belum lagi ucap manjamu saat kegalauan melanda. Kau buat ponselku ramai oleh curahan duka, derai air mata, dan kalimat kangen yang begitu menggoda. Begitu kutanya kapan bisa bertemu, kau berkelit dengan alasan lelakimu. Lagi-lagi kalau sudah begini aku bisa apa. Tanpa henti kau hujaniku dengan perasaan hampa.

Kejam!!!

Aku ingin berhenti kauhadiahi sakit hati. Terlalu banyak kejutan menungguku di depan,  semua tentangmu harus kuhentikan. Ini saatnya menghidupi mimpi. Membawa langkah pada perjalanan yang selalu mengantarkan pengalaman. Dan pelajaran, membuat ku sadar bahwa semua yang kita raih hanyalah seonggok kerdil di mata semesta.

Cukup!!!

Kini saatnya berkemas, memeras duka hanguskan ampas, dan berjalan menemui hal-hal baru yang berkilau emas. Mengakrabkan diri dengan rasa syukur, menghirup lebih banyak terbit sang surya, memeluk lebih erat temaram senja. Memenggal gengsi, melihat dunia dari lebih banyak sisi.

No comments:

Post a Comment